SUKABUMI – Pantai Minajaya di Kabupaten Sukabumi, menjadi ruang belajar terbuka melalui penyelenggaraan Jampang Creative Camp (JCC) 2. Dikutip dari website Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, JJC 2 berlangsung pada 31 Januari – 1 Februari 2026. Kegiatan ini menghadirkan pendekatan pendidikan kreatif berbasis seni, budaya, dan kesadaran ekologis. Melalui pesisir selatan Jawa Barat sebagai lanskap hidup untuk belajar, berkarya, serta berkolaborasi.
Ide kreatif ini lahir dari para pemuda Pajampangan yang tergabung dalam komunitas Pakidolan Lab (Eco Art & Cultural Laboratory). Komunitas ini berada di bawah naungan Yayasan Sri Manggala Nusantara yang berasal dari Jampang Kulon, Kabupaten Sukabumi. JCC awalnya diselenggarakan pada 2025 dengan mengusung konsep creative camping dan mengangkat isu lingkungan. Pada tahun ini, JCC kembali diadakan melalui kolaborasi dengan Multimedia Nusantara Polytechnic (MNP) hingga menjadi bagian dari Program Inovasi Seni Nusantara 2025 yang digagas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Republik Indonesia.
Program ini dilaksanakan secara kolaboratif dengan melibatkan Global Geopark Youth Forum (GGYF). Dukungan juga diberikan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, pemda, kalangan akademisi, hingga komunitas yang ada di Jawa Barat.
Mengusung tema ‘Kutamadu Nu Jadi Mahkota, Laut Kidul Purba Kudu Jadi Harta’, JCC 2 mengajak peserta mengenali Pantai Minajaya. Pantai Minajaya secara historis dikenal sebagai Kutamara atau kawasan yang menyimpan nilai geologi purba. Juga sejarah budaya pesisir, serta pengetahuan ekologis yang relevan dengan tantangan lingkungan masa kini.

Prosesi Budaya Nganteuran Sagara Mengawali Jampang Creative Camp
Kegiatan pembelajaran diawali dengan prosesi budaya Nganteuran Sagara, sebuah tradisi masyarakat pesisir Pantai Minajaya yang merepresentasikan ungkapan syukur dan penghormatan terhadap Laut Kidul sebagai sumber kehidupan. Prosesi ini diwujudkan melalui rangkaian ritual seperti mepes laut, ngarujak dengan garam, larung saji, serta kirab hantaran pangan dari wilayah Jampang menuju pantai. Para peserta turun langsung bersama warga dengan tujuan mengenali kearifan lokal dan meningkatkan kesadaran ekologis.
Sebagai ruang belajar kreatif, JCC 2 juga menghadirkan rangkaian talkshow, lokakarya, dan pendampingan ide kreatif. Menekankan praktik langsung hingga pembelajaran kontekstual. Pelestarian lingkungan pesisir menjadi perhatian utama dalam pelaksanaan program ini. Melalui diskusi sejarah dan geologi, diharapkan lahir pemikiran tentang hubungan laut serta daratan sebagai satu kesatuan ekosistem yang wajib dijaga dan dilestarikan.

Seni Pertunjukan dan Projection Mapping
Sebagai refleksi artistik atas kondisi lingkungan pesisir, JCC 2 turut menampilkan karya ‘Beach, Body, Broken’. Pertunjukan tari kontemporer yang dipadukan dengan projection mapping. Pertunjukan ini dibawakan oleh gabungan sanggar tari di wilayah Pajampangan sebagai wujud pelestarian praktik karya seni lokal.
Karya tari tersebut menempatkan tubuh manusia sebagai medium pembacaan atas kerentanan ekosistem Pantai Minajaya. Diwujudkan dengan eksplorasi visual yang dikolaborasikan bersama Program Inovasi Seni Nusantara oleh MNP sebagai kolaborator visual. Melalui ide kreatif ini, lahirlah simbol mangrove sebagai penanda perubahan lanskap pesisir dan pesan kewaspadaan terhadap krisis lingkungan.

Aksi Penanaman Mangrove
Sebagai bagian dari komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan, JCC 2 juga melaksanakan penanaman mangrove di Pantai Minajaya. Kegiatan ini melibatkan peserta dan masyarakat sebagai upaya nyata dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir. Selain itu, aksi ini juga memperkuat kesadaran kolektif akan pentingnya perlindungan wilayah pantai sebagai ruang hidup dan ruang belajar bersama.
Melalui JCC 2, Pantai Minajaya tidak hanya diposisikan sebagai destinasi wisata. Tetapi juga sebagai ruang belajar, tempat seni, pengetahuan lokal, dan kesadaran ekologis yang dipertemukan untuk merawat masa depan pesisir selatan Jawa Barat secara berkelanjutan.




