MNP Gelar Sosialisasi PPKPT, Perkuat Komitmen Ciptakan Ruang Aman di Kampus

Category
Release Date
April 22, 2026
Reading Time
3 minutes

Multimedia Nusantara Polytechnic (MNP) menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi (PPKPT) pada Rabu, 22 April 2026. Kegiatan bertajuk “Menciptakan Ruang Aman di Kampus dengan Relasi Sehat” ini berlangsung di kampus MNP Gading Serpong, Tangerang.

 

Kegiatan yang digagas oleh Satuan Tugas (Satgas) PPKPT MNP ini diikuti oleh lebih dari 150 peserta. Peserta terdiri dari dosen, tenaga kependidikan (tendik), dan mahasiswa. Sosialisasi ini menjadi bagian dari komitmen MNP dalam menciptakan lingkungan kampus yang aman, inklusif, dan bebas dari segala bentuk kekerasan. Turut hadir pula Satgas PPKPT UMN yang menjadi pendamping dari Satgas PPKPT MNP.

 

 

Penguatan Kesadaran PPKPT di Lingkungan Kampus

 

Dalam kegiatan ini, Kepala LLDikti Wilayah III, Henri Togar Hasiholan Tambunan, menegaskan pentingnya kesadaran kolektif dalam mencegah kekerasan di kampus.

 

Ia menyampaikan bahwa saat ini isu kekerasan di perguruan tinggi menjadi perhatian serius. Bahkan, fenomena tersebut kerap disebut sebagai “gunung es” karena banyak kasus yang tidak dilaporkan.

 

“Kampus itu jadi rumah kedua bagi kita, jadi kita harus menciptakan kampus yang aman dan nyaman. PPKPT sudah menjadi perhatian pemerintah melalui regulasi Permendikbudristek No. 55 Tahun 2024. Jadi sangat serius. Regulasi ini juga menjadi bagian dari penilaian dalam sistem penjaminan mutu pendidikan tinggi,” terangnya

 

Henri juga mengajak seluruh civitas academica untuk tidak mentoleransi kekerasan dalam bentuk apa pun. Hal ini termasuk tindakan yang kerap dianggap sepele, seperti candaan yang berpotensi melukai.

 

“Saran saya, mahasiswa carilah teman sebanyak-banyaknya di kampus ini, jangan sampai cari musuh. Jadi tolong dijaga. Ini adalah momen yang sangat bagus untuk mengingatkan jangan sampai ada kekerasan,” tambah Henri.

 

ppkpt 2

 

Satgas PPKPT: Komitmen MNP Mewujudkan Kampus Aman

 

Direktur MNP, Hargyo Tri Nugroho Ignatius, menyampaikan bahwa kampus tidak hanya menjadi tempat mengejar prestasi akademik. Kampus juga merupakan ekosistem sosial yang membentuk karakter mahasiswa secara utuh.

 

“Kampus saat ini bukan hanya tempat untuk mencari IPK tinggi. Tetapi juga membentuk manusia seutuhnya. Karena itu, kampus harus menjadi ruang aman bagi seluruh civitas academica,” ungkapnya.

 

Ia juga menambahkan bahwa MNP telah membentuk Dewan Etik dan Satgas PPKPT sebagai bagian dari transformasi kelembagaan. Perubahan ini tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga menjadi langkah nyata dalam menangani berbagai bentuk kekerasan.

 

“Inisiatif ini diwujudkan melalui program bernama Safespace. Program ini bertujuan menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi seluruh civitas academica dalam menyampaikan laporan maupun mencari dukungan,” tegas Hargyo.

 

 

Edukasi dan Kolaborasi untuk Pencegahan Kekerasan

 

Dalam sesi materi, Ketua Tim Kerja Anti Dosa Pendidikan Tinggi dan Integritas Akademik LLDikti Wilayah III, Taufan Setyo Pranggono, menyoroti pentingnya pencegahan kekerasan di berbagai aspek. Ia menjelaskan bahwa fokus anti dosa pendidikan tinggi mencakup antikekerasan seksual, antiperundungan, antiintoleransi, antikorupsi, dan antinarkoba.

 

Selain itu, ia menekankan bahwa kekerasan kini juga berkembang di ranah digital. Oleh karena itu, kesadaran dalam berinteraksi di media sosial dan grup komunikasi menjadi hal yang penting. Taufan menegaskan penguatan pencegahan kekerasan harus ada kolaborasi berbagai pihak.

 

“Baik dalam maupun luar kampus, agar tidak beratnya hanya di Satgas PPKPT. Perlu adanya adanya kolaborasi antara berbagai pihak dalam kampus. Hal ini mencakup penguatan edukasi, penyediaan kanal pelaporan, serta survei iklim akademik,” jelasnya.

 

ppkpt 3

 

MNP Dorong Lingkungan Kampus yang Aman dan Berkelanjutan

 

Pelaksana Tugas Ketua Satgas PPKPT MNP, Laura Ajawaila menegaskan melalui kegiatan ini, MNP menegaskan komitmennya dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan sehat.

 

“Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada pencegahan, tetapi juga pada penanganan dan pemulihan. Kami juga berkomitmen kanal-kanal pelaporan yang harus lebih mudah dilihat dan diakses oleh seluruh civitas academica,” pungkas Laura.

 

Sebagai referensi global, pentingnya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman juga disampaikan oleh UNESCO dalam berbagai program perlindungan peserta didik. Dengan langkah ini, MNP terus memperkuat perannya dalam membentuk talenta yang tidak hanya kompeten, tetapi juga berkarakter dan berintegritas.