Transformasi supply chain global memasuki fase baru setelah era Industri 4.0 berkembang pesat. Digitalisasi tidak lagi sekadar otomatisasi proses, tetapi menyentuh cara berpikir, budaya kerja, dan keberlanjutan sistem secara menyeluruh. Hal ini disampaikan oleh Prof. Koichi Murata, Director of Lean Management Laboratory, Nihon University, Jepang, dalam paparannya mengenai masa depan pengelolaan supply chain digital global.
Sebagai akademisi yang telah terlibat dalam berbagai proyek kolaborasi dengan perusahaan di Indonesia, Prof. Murata menekankan bahwa supply chain masa depan akan sangat bergantung pada digitalisasi jaringan yang sustainable. Tantangan utama bukan hanya pada teknologi, tetapi pada bagaimana manusia merancang, mengelola, dan memelihara sistem tersebut secara konsisten.
Digitalisasi Supply Chain: Mengelola Hal Kecil dengan Presisi
Prof. Murata menjelaskan bahwa praktik digitalisasi supply chain di Jepang dibangun dari perhatian terhadap detail terkecil. Sensor, data real-time, dan sistem terintegrasi digunakan untuk memastikan setiap barang terpantau dengan baik.
“Dalam supply chain, satu barang kecil sangat penting untuk diatur,” jelasnya.
Pendekatan ini sejalan dengan berbagai riset global. World Economic Forum (2023) menyebutkan bahwa visibilitas end-to-end dan data granular menjadi kunci peningkatan resiliensi rantai pasok. Sementara itu, McKinsey & Company menegaskan bahwa perusahaan dengan supply chain berbasis data memiliki peluang lebih besar meningkatkan efisiensi biaya dan ketepatan layanan.
Di Jepang, tata letak gudang, alur distribusi, hingga penempatan mesin dirancang agar mendukung digitalisasi jangka panjang. Sistem tidak hanya efisien, tetapi juga mudah disesuaikan dengan perubahan permintaan pasar.
Kaizen, Budaya, dan Rasa Hormat pada Proses
Menariknya, digitalisasi di Jepang tidak pernah dilepaskan dari budaya. Prof. Murata membagikan cerita mengenai Toyota, yang dikenal luas sebagai pelopor Lean Management dan Kaizen.
Mesin-mesin otomasi di pabrik Toyota tidak hanya bekerja secara presisi, tetapi dirawat dengan filosofi rasa hormat. Bahkan setelah mesin selesai beroperasi, pekerja seakan “mengucapkan terima kasih”. Praktik ini mencerminkan nilai Kaizen, yaitu perbaikan berkelanjutan yang melibatkan manusia, proses, dan teknologi secara harmonis.
Pendekatan ini relevan dengan konsep sustainable supply chain, di mana efisiensi operasional berjalan beriringan dengan keberlanjutan lingkungan dan sosial. Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) juga menekankan keberlanjutan rantai pasok membutuhkan perubahan perilaku organisasi, bukan hanya investasi teknologi.
Indonesia–Jepang: Kolaborasi untuk Supply Chain Masa Depan
Prof. Murata melihat potensi besar kolaborasi antara Indonesia dan Jepang. Indonesia memiliki kekuatan pada Sumber Daya Alam, agility, dan resources, sementara Jepang unggul dalam material science, precision manufacturing, rigor, dan connectivity.
Kolaborasi ini menjadi semakin relevan di tengah dinamika geopolitik global dan tantangan disrupsi rantai pasok. Supply chain masa depan tidak bisa dibangun secara parsial. Dibutuhkan sinergi lintas negara, lintas industri, dan lintas disiplin ilmu.
Ia menegaskan bahwa misi mewujudkan sustainable supply chain tidak dapat dilakukan sendirian. Inti supply chain adalah memastikan barang sampai kepada pengguna dalam kondisi terbaik. Oleh karena itu, prosedur yang baik harus dirancang dan dijalankan bersama oleh seluruh pemangku kepentingan.
Menyiapkan Talenta Supply Chain Digital Masa Depan
Perubahan lanskap global ini menuntut kehadiran talenta yang tidak hanya memahami logistik, tetapi juga digitalisasi, analisis data, keberlanjutan, dan kolaborasi lintas fungsi. Inilah tantangan sekaligus peluang besar bagi pendidikan vokasi.
Program Studi Digital Commerce & Supply Chain (DCSC) Multimedia Nusantara Polytechnic (MNP) hadir untuk menjawab kebutuhan tersebut. Kurikulum DCSC dirancang dengan pendekatan industri, mengintegrasikan manajemen supply chain, digital commerce, teknologi, dan praktik keberlanjutan.
Melalui pembelajaran berbasis proyek, kolaborasi industri, serta pemahaman global supply chain, mahasiswa DCSC MNP dipersiapkan menjadi talenta siap kerja yang adaptif terhadap perubahan zaman. Mereka tidak hanya belajar mengelola alur barang, tetapi juga membangun sistem rantai pasok yang efisien, berkelanjutan, dan bernilai tambah.
Di tengah transformasi supply chain global, investasi terbaik adalah pada pendidikan yang relevan dan berdampak. Bersama DCSC MNP, mahasiswa dipersiapkan untuk menjadi bagian dari solusi supply chain masa depan, baik di tingkat nasional maupun global.




