Berwisata untuk Kesehatan? MNP dan AWMI Kaji Potensi Wisata Medis Indonesia
Ketika berbicara tentang wisata, yang terlintas biasanya adalah destinasi, kuliner, atau pengalaman baru. Namun, ada tren lain yang menggabungkan perjalanan dengan kebutuhan kesehatan, yaitu wisata medis Indonesia.
Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan sektor ini. Berbagai fasilitas kesehatan telah berkembang dengan layanan yang semakin beragam. Namun, informasi tentang layanan tersebut belum sepenuhnya terhubung dengan kebutuhan calon pasien.

Persoalan tersebut menjadi perhatian Multimedia Nusantara Polytechnic (MNP) bersama Asosiasi Wisata Medis Indonesia (AWMI) melalui Focus Group Discussion (FGD).
Kegiatan bertajuk “Peran Komunikasi Digital dan E-WOM dalam Membangun Niat Berkunjung Wisata Medis di Indonesia” berlangsung pada 12 Agustus 2026. FGD ini merupakan bagian dari Hibah Penelitian Dosen Pemula (PDP) Kemdiktisaintek Tahun 2026.
Penelitian dipimpin oleh Chelsia Pranindyasari dari Program Studi Digital Commerce & Supply Chain MNP. Tim peneliti juga melibatkan Najla Claryssa dari AWMI dan Cindy Malinda Uscha dari MNP.

Mengapa Wisata Medis Indonesia Perlu Dikembangkan?
Potensi wisata medis Indonesia cukup besar. Berdasarkan data yang digunakan dalam penelitian, sekitar 1–2 juta masyarakat Indonesia melakukan perjalanan ke luar negeri setiap tahun untuk mendapatkan layanan medis.
Di sisi lain, Indonesia memiliki ribuan fasilitas kesehatan. Sebagian rumah sakit juga telah memperoleh akreditasi nasional maupun internasional.
Tantangannya bukan hanya mengenai ketersediaan fasilitas. Informasi dan pengalaman pasien juga menjadi bagian penting dalam keputusan memilih layanan kesehatan.
Informasi mengenai fasilitas, layanan unggulan, biaya, hingga pengalaman pasien masih tersebar di berbagai kanal. Kondisi ini membuat calon pasien perlu mencari informasi dari banyak sumber sebelum mengambil keputusan.

Dari Rumah Sakit hingga Pengalaman Pasien
FGD mempertemukan berbagai pihak dalam ekosistem wisata medis. Peserta berasal dari fasilitas kesehatan, dokter, travel agent, asosiasi industri, hingga pasien.
Sejumlah organisasi dan fasilitas kesehatan turut hadir. Di antaranya AWMI, ASTINDO, Alpha IVF, Helene Clinic, PT Medione Prima Solusi, Fosun Health, Mandaya Hospital, RS Bethsaida, Ciputra Hospital, dan Bali International Hospital.
Dr. dr. Taufik Jamaan, SpOG, Ketua Umum AWMI, menilai fasilitas kesehatan Indonesia perlu memiliki keunggulan yang jelas.
“Faskes Indonesia harus punya nilai jual,” ujar Taufik.
Menurutnya, rumah sakit di Indonesia memiliki berbagai layanan unggulan. Keunggulan tersebut perlu dikembangkan menjadi unique selling point (USP) yang mudah dipahami masyarakat.
“Tapi kita perlu pahami, keputusan pasien tidak hanya dipengaruhi fasilitas. Kepercayaan, kualitas pelayanan, waktu tunggu, kemudahan akses, dan pengalaman pasien juga menjadi pertimbangan,” tambahnya.

Komunitas Digital Bisa Membangun Kepercayaan
Perkembangan media sosial membuat pengalaman pasien semakin mudah dibagikan. Kondisi ini membuka peluang bagi komunitas digital untuk menjadi sumber informasi wisata medis.
Dalam FGD, word of mouth atau rekomendasi dari orang lain menjadi salah satu faktor yang diperhatikan calon pasien. Pengalaman pasien sebelumnya juga dapat membantu membangun kepercayaan.
Karena itu, komunikasi digital tidak selalu harus berbentuk promosi. Pendekatan yang lebih relevan adalah memahami kebutuhan dan persoalan calon pasien.
Informasi yang jelas dapat membantu masyarakat memahami pilihan layanan. Pengalaman pasien juga dapat memberikan gambaran sebelum seseorang menentukan fasilitas kesehatan.

MNP dan AWMI Siapkan Pengembangan Ekosistem Wisata Medis
Bagi MNP dan AWMI, FGD menjadi langkah awal untuk memahami kebutuhan ekosistem wisata medis Indonesia. Hasil diskusi akan menjadi bagian dari studi kelayakan untuk pengembangan platform Wisata Medis Indonesia. Platform tersebut diharapkan dapat menghubungkan informasi, pengalaman, dan kebutuhan berbagai pihak dalam satu ekosistem.
Penelitian ini juga melihat peran electronic word of mouth (e-WOM) dalam membangun niat masyarakat memilih layanan wisata medis di Indonesia. Pendekatan tersebut sejalan dengan SDG 3 tentang kesehatan dan kesejahteraan. WHO menempatkan akses terhadap layanan kesehatan berkualitas sebagai bagian penting dari tujuan tersebut.
Bagi MNP, penelitian ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan riset yang berdampak bagi masyarakat. Kolaborasi antara perguruan tinggi, sektor kesehatan, pariwisata, komunitas, dan industri diharapkan dapat menghasilkan ekosistem wisata medis yang lebih terintegrasi.
Dengan informasi yang lebih mudah diakses dan pengalaman pasien yang lebih terhubung, wisata medis Indonesia memiliki peluang untuk berkembang. Bukan hanya sebagai sektor pariwisata baru, tetapi juga sebagai bagian dari inovasi layanan yang menjawab kebutuhan masyarakat.





