Menengok Metaverse dari Sudut Pandang Akademik & Industri

Category
Release Date
June 3, 2022
Reading Time
3 minutes

Multimedia Nusantara Polytechnic (MNP) menyelenggarakan Webinar Nasional bertajuk Co-Creation Vokasi Untuk Indonesia: Membangun Metaverse ala Vokasi pada Selasa (24/5) secara daring. Webinar ini diselenggarakan untuk mendiskusikan perkembangan dan tantangan metaverse baik yang telah disesuaikan pada konteks masa kini, maupun yang akan diterapkan di masa depan.

Narasumber yang kompeten di bidangnya masing-masing turut membagikan ilmunya pada acara ini adalah Wikan Sakarinto, Direktur Jendral (Dirjen) Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, lalu Daniel Surya selaku Komisaris Utama dari WIR Group, Kemal Hasan selaku Direktur Multimedia Digital Nusantara, Glory Oyong selaku Direktur Corporate Communication Kompas Gramedia, serta dimoderatori oleh Roy Anthonius Susanto, Direktur Multimedia Nusantara Polytechnic.

Metaverse adalah dunia alternatif yang dapat memberikan solusi bagi jarak geografis, waktu  dan konektivitas di tengah kondisi tantangan pandemi dan pascapandemi. Meskipun menjanjikan, metaverse adalah dunia baru dan memerlukan studi yang berkelanjutan untuk pengembangannya. Kini para sivitas akademika perguruan tinggi menelaah metaverse untuk melihat implementasi yang lebih luas, alih-a

lih hanya sebagai sebuah permainan simulasi. Salah satu model akademis yang bisa mengoptimasi metaverse adalah pendidikan vokasi.

Institusi pendidikan, khususnya perguruan tinggi vokasi, sudah seharusnya menjadi bagian dari support system masa depan bagi metaverse. Hal ini dikarenakan pendidikan vokasi menerapkan pendidikan berbasis praktik yang menyerap sekaligus menyalurkan kebutuhan industri. 

“Pendidikan vokasi hari ini harus bertransformasi menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Mindset para guru, siswa, dan akademisi secara umum juga harus mampu beradaptasi dengan penerapan teknologi baru ini. Karena kita akan menciptakan lulusan yang kompetensinya lengkap, maka kita menyiapkan kurikulum baru yang memperbanyak Project Based Learning dan leadership. Intinya menghasilkan produk nyata sebagai pengalaman pembelajaran yang lengkap,” ujar Wikan.

Di Indonesia, konsep metaverse akan diwujudkan oleh salah satu perusahaan yang baru saja go public pada 4 April lalu, yakni WIR Group (WIRG). Saat ini WIR Group mulai merambah kerja sama dengan institusi pendidikan untuk mendorong narasi metaverse dalam kaitannya untuk mengembangkan pendidikan, salah satunya adalah dengan memasukkan kurikulum metaverse. Daniel Surya menjelaskan bahwa augmented reality sebagai salah satu basis dari metaverse akan mentransformasi interaksi masyarakat, termasuk dunia pendidikan.

Metaverse dan penerapan web 3.0 merupakan sebuah keniscayaan. Jadi yang penting buat kita saat ini adalah mempersiapkan diri bukan hanya menunggu ketika momennya datang. Saya mengajak teman-teman sekalian untuk berkolaborasi dan beradaptasi, agar orang Indonesia bisa mengoptimasi lebih dahulu untuk membangun platform di web 3.0 ini dibanding negara-negara lain, khususnya di dunia pendidikan. Karena pendidikan merupakan entry point untuk segala akses internet ke depannya,” tambah Daniel.

Pada metaverse, salah satu bagian yang menjadi pendukungnya adalah industri animasi. Multimedia Digital Nusantara (MDN) yang merupakan unit bisnis di bawah naungan Yayasan Multimedia Nusantara, salah satu bidang usahanya adalah menghasilkan karya-karya animasi berkualitas tinggi berkelas dunia. Selain di bidang animasi, MDN juga memiliki bidang usaha riset dan konsultasi yang berfokus pada pola perilaku Gen Z baik dalam aktivitasnya di dunia digital maupun terkait dengan dunia industri.

“Generasi selalu tumbuh. Tidak lama lagi, Gen Z merupakan faktor penentu dalam kehidupan kita. Jadi generasi akan evolving terus dan mereka punya cara hidupnya sendiri. Memahami mereka menjadi satu kunci bagi kita memahami produk kita dan mengetahui di mana generasi baru ini berada. Metaverse saat ini adalah tempat mereka berkumpul. Jadi, welcome to metaverse!,” sambung Kemal.

Jika metaverse semakin mendisrupsi industri di masa depan, maka sudah seharusnya institusi pendidikan yang notabene memberikan pengajaran bagi anak muda segera menyesuaikan diri untuk dapat beradaptasi dan immerse atau menyatu dengan metaverse. Jangan sampai generasi muda, khususnya yang mengenyam pendidikan vokasi hanya menjadi penonton dari pesatnya perkembangan metaverse yang saat ini sudah berada di depan mata. Kompas Gramedia yang salah satu bagian dari grupnya bergerak di bidang pendidikan seperti Multimedia Nusantara Polytechnic dan Universitas Multimedia Nusantara, juga ingin berkontribusi bagi penyediaan sumber daya manusia yang terampil di era metaverse ini.

“Tentu semangat untuk terus adaptif dan inovatif itu harus selalu ada dalam generasi muda kita. Untuk tidak hanya Tangguh menghadapi persaingan bangsa sendiri saja, namun juga untuk Tangguh untuk bersaing di depan bangsa-bangsa lain. Untuk itu kita harus persiapkan dengan edukasi yang terbaik dengan bekerja di Lembaga yang mendukung. Semoga para generasi muda kita ke depan adalah para ahli-ahli yang menguasai teknologi dan digitalisasi sesuai dengan harapan kita semua,” pungkas Glory.

Latest News
Promotion