Transportasi Efisien sebagai Fondasi Industri Hijau dan Rantai Pasok Berkelanjutan Indonesia

Category
Release Date
February 2, 2026
Reading Time
2 minutes

Industri logistik & rantai pasok menghadapi tekanan besar untuk bertransformasi. Tuntutan efisiensi kini berjalan seiring dengan tanggung jawab lingkungan. Isu pengurangan emisi karbon menjadi agenda utama industri logistik global.

 

Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI), Mahendra Rianto, menegaskan tantangan tersebut semakin nyata. Menurutnya, rantai pasok harus beroperasi optimal tanpa mengabaikan keberlanjutan.Transformasi ini penting bagi masa depan industri nasional.

 

 

Transportasi sebagai Penggerak Utama Rantai Pasok

 

Transportasi berperan sebagai enabler utama dalam industri logistik. Perannya mencakup seluruh proses distribusi barang. Mulai dari First Mile, Mid Mile, hingga Last Mile. First Mile mengangkut bahan baku dari sumber produksi. Mid Mile memindahkan barang jadi ke pusat distribusi. Last Mile mengantarkan produk langsung ke konsumen akhir.

 

Proses ini terlihat sederhana di permukaan. Namun, praktiknya sangat kompleks dan saling terhubung. Kesalahan kecil dapat berdampak besar pada biaya dan emisi. World Economic Forum mencatat sektor transportasi menyumbang sekitar 25 persen emisi karbon global. Informasi ini menegaskan pentingnya efisiensi distribusi.

 

 

Biaya Logistik Tinggi sebagai Sinyal Masalah

 

Mahendra Rianto menekankan biaya logistik mencerminkan kualitas proses. Biaya tinggi menandakan adanya inefisiensi operasional. Hal ini juga menunjukkan pemborosan energi dan sumber daya. Bank Dunia melaporkan biaya logistik Indonesia masih relatif tinggi. Angkanya berada di kisaran 14 hingga 15 persen dari PDB.

 

Efisiensi transportasi menjadi kunci perbaikan. Pemilihan moda, rute, dan waktu distribusi sangat menentukan. Optimalisasi proses dapat menekan biaya dan emisi secara bersamaan.

 

 

Green Logistics sebagai Solusi Industri Rantai Pasok Hijau

 

ALI mendorong penerapan green logistics di Indonesia. Pendekatan ini menggabungkan efisiensi dan keberlanjutan. Transportasi yang optimal mendukung terciptanya industri hijau. OECD menyebut logistik berkelanjutan meningkatkan produktivitas industri. Digitalisasi rantai pasok memperkuat daya saing nasional.

 

Industri hijau bukan sekadar kewajiban regulasi. Ia menjadi peluang strategis bagi pertumbuhan ekonomi. Rantai pasok efisien adalah fondasi utama transformasi tersebut.

 

 

Menyiapkan Talenta Supply Chain Masa Depan

 

Transformasi logistik membutuhkan sumber daya manusia unggul. Talenta harus memahami efisiensi transportasi dan keberlanjutan. Pemahaman digital supply chain menjadi kebutuhan utama industri.

 

Program Studi Digital Commerce & Supply Chain (DCSC) Multimedia Nusantara Polytechnic (MNP) menjawab tantangan ini. Program ini mengintegrasikan logistik, supply chain, dan digitalisasi. Mahasiswa dibekali analisis efisiensi dan praktik industri nyata.

 

Melalui pembelajaran berbasis proyek, mahasiswa memahami alur First Mile hingga Last Mile. Pendekatan ini menyiapkan lulusan siap kerja. Lulusan mampu berkontribusi pada industri logistik berkelanjutan.

 

Di tengah tuntutan industri hijau, pendidikan vokasi relevan menjadi investasi strategis. DCSC MNP mempersiapkan talenta rantai pasok masa depan Indonesia.